Ramadhan bulan yang mulia, bulan penuh ampunan..
Ramadhan bulan yang suci, bulan terlipat gandanya pahala..
Tapi apakah kita merindukan Ramadhan hanya karna terdapat hal tersebut diatas? Ataukah alasan itu yang membuat kita meningkatkan ibadah-ibadah kita?
Lalu jika kita masih dalam hal yang sama seperti tahun "kemarin", kapan kita akan mencapai fase yang lebih baik. Ramadhan berlalu, semangat berlalu. Sungguh bagi "Orang Suci" tidaklah berbeda 1 atau 2 sebab baginya semua telah menjadi sama (1).
Kalau kita mengatakan Ramadhan ini dijadikan moment tepat untuk memperbaiki diri, yah saya pun sepakat dalam hal pembaharuan dan landasan awal tetapi tidak bagi "Orang Suci" sebab mereka "Tersucikan" setiap saat.
"Seisi dunia takkan pernah melebihi nilai satu raka'at sholat", tapi makna dari ucapan itu tidak berlaku bagi siapa saja, ungkapan itu sangat sederhana tetapi pada hakikatnya sudah mampukah menukarkan seisi dunia dengan satu raka'at sholat kita. Jangankan seisi dunia, satu macam isi dunia saja mungkin sudah mampu menggadaikan satu raka'at sholat kita. "RENUNGKAN MAKNANYA"
Seorang pemuda kampung ditanya oleh salah seorang ulama: Hai anak muda.. apa yang membuat engkau begitu rajin beribadah disetiap bulan Ramadhan?
Karna pahalanya lenih besar ketimbang bulan-bulan yang lain. Dan ibadahku yang penuh dalam bulan Ramadhan akan menutupi kelalaianku sebelas bulan lainnya. "Anak muda itu menjawab dengan lantang.
Kalau begitu engkau sangat yakin ibadahmu kali ini memang benar?
Sangat yakin.
Engkau salah anak muda, tidak ada jaminan pasti ibadahmu sudah benar karna sesungguhnya setiap gerakan hanyalah hal kedua, sedangkan yang menggerakkan jadi penentu adalah niatmu, hatimu wahai anak muda. Apa engkau yakin Allah akan membuat perhitungan baik kepadamu sedangkan engkau sendiri telah membuat perhitungan buruk kepada Allah? Bulan ini memang sangat baik, tetapi kebaikannya itu hanya berlaku bagi yang perhitungannya baik.
Ulama tersebut mengajarkan kita tentang arti sebuah hadiah dari Tuhan, mengajarkan kita tentang arti sebuah kebaikan dan niat kita dalam bertindak. Tuhan memberikan kepantasan buat kita, bukan memberikan keinginan yang kita pinta, andai keinginan kita terkabul maka itu karna keinginan itu pantas buat kita. Jika demikian untuk apa adanya keinginan sementara keinginan itu hanyalah hal kedua, yang jadi penentu adalah kepantasan buat kita. "Orang Suci" telah merasa membodohi dirinya bila hal kedua yang terus dia upayakan untuk mendapatkan hakekat dari tindakannya karna sesungguhnya "Orang Suci" telah memahami antara harapan dan kepastian. Baginya Tuhan sengaja menyelipkan hal kedua agar manusia lebih mudah memahami hal pertama (tujuan sebenarnya). Bukankah agama ini memang datang untuk mempermudah segalah sesuatunya.
Pernah seorang kawan bertanya: Salahkah aku mengharapkan pahala dalam ibadahku? Salahku yang beribadah karna takut siksa api neraka dan menginginkan nikmat surga?
Tidaklah salah mengharapkan hal itu, saya hanya mengatakan setakat itukah penghambaan kita terhadap Tuhan. Penghambaan yang terukur oleh pahala, neraka, dan surga. Tuhan adalah Raja bagi segalahnya, tentu harta Tuhan tidak hanya itu. Dan sesungguhnya andai engkau mengetahui bahwa Tuhanlah harta yang sesungguhnya sementara yang lain hanyalah bagian-bagian kecil sebaga tanda-tanda keberadaan Tuhan.
"Aku (bukan aku) akan menyiram api neraka dengan air yang aku bawa ini dan akan membakar surga itu dengan api ini agar kelak manusia tidak lagi beribadah karna hal itu tetapi ibadahnya semata-mata karna cintanya terhadap Tuhan"
Malu rasanya berbicara tentang keikhlasan bila masih mengharap.
Malu rasanya berbicara tentang kesabaran bila masih diselimuti keluhan.
Malu rasanya berbicara tentang keridhoan bila masih belum ridho kepadaNya.
"Orang Suci" bukan karna tanpa kesalahan, bukan tanpa keburukan tetapi tindakan terampuni sebelum ia melakukan tindakan"
♥¦♥¦♥Kalimat merupakan hal kedua yang tak berarti bila hal sesungguhnya "tujuan" sudah terpahami sebenar-benar pemahaman dan pemahaman yang benar adalah yang dirasakan♥¦♥¦♥
Aku menuliskan tentang "Orang Suci" bukan karna aku merasa tersucikan, justru merasa sangat kotor sehingga perlu adanya perubahan menuju kesucian yang seharusnya. Aku menuliskan ini sebagai langkah awal memulai perjalanan sesungguhnya. Mengetahui tujuan sangat penting sebelum memulai perjalanan agar dalam perjalanan kita mampu melepas tirai penghalang mencapai hal utama.
Jazakallahu Khaiiran Katsiiran.... do'a yang pantas untukmu di alam keabadian. Engkau adalah satu yang takkan pernah jadi dua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar