Kamis, 03 Januari 2013

Kenapa Engkau Tak Jujur?


Afrizah~ Kenapa engkau melakukan ini padaku? Bukankah engkau pernah berjanji kepadaku untuk tetap bersamaku dan engkau pun berjanji akan menerima pinanganku, tapi... kenapa sekarang engkau berubah fikiran? Apa karna kini engkau telah menemukan kekasih lain? Atau apa karna kini engkau merasa aku tidak akan mampu membahgikanmu karna aku tidak memiliki harta yang banyak?

Rury hanya diam tak mampu berkata-kata, dia tak dapat membendung air matanya. Masih tetap diam dan tertunduk dihadapan kekasihnya.

Afrizah~ Kenapa engkau hanya diam? Dan usaplah air matamu, aku tidak ingin melihat air mata palsumu itu. Sekarang sebaiknya engkau pulang, karna dengan diammu itu aku telah mengetahui jawabanmu. Semoga engkau bahagia dengannya.

Dia lalu beranjak pergi meninggalkan Rury yang masih tertunduk dan menangis. Sementara itu Afrizah dengan penuh rasa kecewa terhadap Rury kekasihnya semakin hilang dari pandangan. Sepertinya ia tak kuasa berlama-lama disana.

Tiga bulan setelah pertemuan itu, Afrizah masih menyimpan kekecewaan terhadapa Rury, bahkan sangat membencinya sehingga semua kenangan tentang Rury di buang jauh-jauh, semua pemberian Rury telah dibakar. Ia benar-benar tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Mungkin karna awalnya mereka saling mencintai dan telah berjanji hidup bersama, tapi entah kenapa Rury lebih memilih mengakhiri kisah mereka.

Tapi hingga kini sebenarnya Afrizah belum mengetahui secara pasti alasan Rury mengakhirinya, sejuta tanya berkecamuk di otaknya hingga suatu hari ia sudah benar-benar tidak sanggup menahannya. Afrizah pun bergegas menuju kediaman Rury dengan penuh harap bisa bertemu dengannya dan mendapatkan penjelasan, hanya itu yang dia inginkan.

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, Afrizah tiba di kediaman Rury. Dia pun disambut oleh ibunda Rury.

Afrizah~ Rury ada umi?

Ibunda Rury~ Silakan masuk dulu nak, tak baik berbicara disini.

Afrizah~ Makasih umi.

Mereka berdua pun masuk menuju sofa di ruang tamu.

Ibunda Rury~ Kamu tunggu sebentar yah umi mau mengambil sesuatu.

10 menit kemudian ibunda Rury keluar membawa segelas minuman dan terlihat juga ada amplop berwarna putih.

Afrizah~ Jadi merepotkan umi.

Ibunda Rury~ Gak apa-apa, kamu kan sudah lama tidak kesini. Silakan di minum, maaf cuma ada itu.

Afrizah~ Makasih umi, ini juga sudah lebih dari cukup.

Ibunda Rury~ Oia ini ada titipan dari Rury buat kamu.

Dia menyodorkan amplop itu ke Afrizah.

Afrizah~ Memangnya Rury kemana umi?

Dia penasaran, kok Rury menitipkan amplop.. apa ia ada dikamarnya tapi tidak bertemu denganku. Fikir Afrizah saat itu.

Ibunda Rury~ Kamu juga akan tahu setelah kamu baca isi amplop itu, tapi umi harap kamu baca pada saat kamu sudah pulang.

Afrizah~ Iya umi. Kalau begitu aku pamit pulang dulu, takut kemalaman dijalan.

Ibunda Rury~ Hati-hati yah.

Afrizah~ Iya umi. Makasih.

Dia pun bergegas menuju kendaraannya dan dengan cepat ia menancapkan pedal gas mobilnya. Tapi dia sangat penasaran dengan isi amplop yang Rury titipkan.

Dia lalu berhenti menepikan mobilnya, dan dengan perlahan serta perasaan tak menentu dibukalah amplop itu.


≈Kekasihku Afrizah....

Maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku menerima pinanganmu, bukan aku tak mencintaimu, bukan juga karna aku ada kekasih lain. Ketahuilah aku hanya mencintaimu dan aku pun sangat menginginkan engkau jadi pendampingku. Tapi kita ini hanya bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang menetapkan takdir bagi kita. Afrizah...aku terima bila engkau menyalahkanku, aku terima bila engkau membenciku, tetapi apa itu namanya cinta? Engkau pernah bilang kepadaku bahwa mencintai itu tak harus memiliki karna cinta itu untuk membahagiakan, bukan dibahagiakan. Tahukah engkau aku lakukan ini kepadamu karna aku sangat mencintaimu, aku tak ingin engkau kecewa kepadaku, aku tak ingin melihat engkau bersedih karenaku. Tahukah engkau aku pun tak bisa menahan perasaanku terhadapmu, rasa ingin menyatu denganmu, rasa ingin ada disampingmu. Aku sangat ingin menjadi istri yang patuh bagimu, aku ingin melahirkan anak darimu, tapi itu hanya keinginanku, dan engkau pun tahu keinginan tidak selalu jadi nyata karna Tuhan yang menetapkan takdir bagi kita.

Sayang... maafkan aku.. dulu aku tak berkata jujur kepadamu karna aku tak ingin engkau bersedih, maka itu aku diam saat engkau cecar aku dengan pertanyaan-pertanyaanmu waktu itu. Dan surat ini sengaja aku tulis dan aku titipkan untukmu agar engkau mengetahui kenapa aku melakukan itu padamu.

Sayang... enam bulan sebelum pertemuan terakhir kita aku pernah jatuh sakit dan hal itu sengaja aku rahasiakan kepadamu. Dan ternyata aku mengidap penyakit yang menurut hasil medis aku hanya mampu bertahan kurang dari setahun, maka itu aku memutuskan hubungan kita karna aku tidak mau engkau bersedih dengan penyakitku. Dan saat engkau terima surat ini aku telah tiada, aku telah pergi untuk selamanya. Aku terpanggil kepangkuanNya. Surat ini aku tuliskan saat-saat aku dalam fase kritis dan aku sengaja meminta kepada umi untuk tidak memberitahukan hal ini kepadamu.

Kekasihku Afrizah... jika kini engkau masih menyimpan rasa untukku, aku mohon hapuskanlah, carilah wanita lain untuk engkau nikahi. Lupakan sumpahmu dulu yang hanya ingin menikah denganku. Aku yakin ada banyak wanita yang mampu menjadi kekasihmu. Cukuplah engkau sertakan namaku dalam do'amu, dan kenanglah sebagai kekasih yang mencintaimu hingga akhir hayatnya.

≈Dariku yang sangat mencintaimu....


♥♥♥Sesuatu yang tampak buruk diluaran belum tentu sama dengan hakikatnya (inti), maka itu kita jangan menilai sesuatu yang belum kita ketahui secara pasti. Jika kita melihat hanya ini, maka nilai hanya ini, jangan menilai yang itu. Bisa jadi penilaian kita hari ini yang membuat esok tak berarti lagi (penyesalan)♥♥♥

♥♥♥Dan janganlah membenci seseorang yang menolak atau pergi meninggalkan kita karna mungkin dia melakukan hal itu demi kebaikan kita. Sebuah kata hanyalah simbol, maka itu jangan sekadar mengetahui simbol itu tetapi telusurilah lebih jauh hingga kita menemukan makna dari simbol itu♥♥♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar