Minggu, 13 Januari 2013

Perawankah?


Keperawanan merupakan hal sangat sakral dan menjadi prioritas bagi seorang pria yang ingin memilih calon istri. Alasannya karena keperwanan merupakan salah satu bagian dari lambang kebaikan akhlak seorang wanita. Pada umumnya seorang pria menganggap wanita yang sudah tidak virgin sebagai wanita yang "nakal" dan "gampangan". Predikat seperti itu bukan ada pada era moderen saat ini, tapi jauh sebelumnya seorang wanita yang sudah tidak virgin akan dianggap seperti itu. Anggapan itu cukup beralasan karena keperawanan merupakan bagian dari kehormatan seorang wanita. Jadi jika ada wanita yang menyerahkan keperawanannya kepada pria yang belum sah menjadi suaminya, maka wanita itu dianggap wanita yang "nakal" dan "gampangan".


Namun tetap saja ada pihak yang menganggap perlakuan seperti itu terhadap seorang wanita yang sudah hilang keperawanannya sangat diskriminasi, sebab alasannya seorang pria yang tidak lagi perjaka tidak dipersoalkan masyarakat dan tidak ada cara mengetahui apakah pria tersebut masih perjaka atau tidak. 

Berbeda dengan seorang wanita yang pasti akan ketahuan pada saat malam pertamanya dengan sang suami. Malam pertama merupakan yang sangat penting bagi pasangan yang melakukan pernikahan. Malam pertama biasa disebut malam harap-harap cemas bagi seorang suami. Seorang suami pasti akan sangat bersyukur dan akan menambah kebahagiaannya apabila pada malam pertama ia mengetahui bahwa istrinya masih perawan, namun hal sebaliknya jika ternyata istrinya ternyata sudah tidak perawan, tentu sang suami akan sangat kecewa. Kecuali sebelumnya sang suami tahu tentang hal itu.

Lalu bagaimana dengan sang istri yang tidak mengetahui suaminya masih perjaka atau tidak. Menurut beberapa orang yang pernah membicarakannya dengan saya beranggapan bahwa itu tidak adil bagi seorang wanita. Seharusnya seorang pria tidak mempermasalahkan apabilanya istrinya sudah tidak perawan sebab sang istri juga tidak tahu pasti apakah pria yang telah menjadikannya seorang istri masih perjaka atau sudah tidak.

Tapi menurut saya ini persoalan perawan dan perjaka bukanlah persoalan adil atau tidak, tapi persoalan harga diri. Tentu dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kejujuran bersama entah itu dari calon istri atau calon suami. Keduanya harus mengatakan hal yang sebenarnya jika memang sudah tidak perawan atau sudah tidak perjaka. Namun jika masih tetap perawan dan perjaka, maka tidak perlu ada keterbukaan terhadap pasangan. Sebab terdengar sedikit "aneh" jika seseorang mengatakan pada pasangannya "aku masih perawan" atau "aku masih perjaka"

Maka itu seorang wanita dan seorang pria diwajibkan menjaga kehormatannya hingga menyerahkan kepada pasangan yang sah baginya. Bukankah pernikahan itu terasa sangat semakin membahagiakan jika keduanya masih tetap "aman" hingga malam pertama.

Namun jika memang sudah terlajur pernah melakukannya, sebaiknya katakanlah kepada calon, hal itu dilakukan untuk menghindari kekecewaan pasangan. Tentu pengakuan itu sangat berisiko, bisa saja rencana pernikahan harus batal karena pengakuan itu. Sebab tidak semua orang mampu menerimanya, apalagi bagi seorang pria yang menginginkan pasangannya masih perawan.

Tapi saya yakin masih ada pria yang mampu menerima ketidakperawanan pasangannya. Yah seharusnya memang seperti itu. Seorang pria tidak pantas menghukum pasangannya hanya karena dosa yang pasangannya lakukan dimasa lalu. Terimalah pasangan dengan sempurna meski pasangan itu memiliki banyak kekurangan. Kareana saya yakin masih banyak wanita yang tidak melakukan hal itu dengan sengaja, atau memang sengaja melakukannya namun telah menyesali dan telah bertobat.

Dan saya juga yakin bahwa persoalan keperawanan bukanlah jaminan pasti yang membuat kehidupan pernikahan akan baik-baik saja. Keperawanan hanya terkadang menjadi tolak ukur perilaku seorang wanita dimasa lalu.

1 komentar:

  1. Bukan masalah....kalo si suami juga udah tidak perjaka....
    yang jadi masalah jika si calon suami / suami msh mempertahankan keperjakaannya....klo ternyata calon istri / istrinya udah tidak perawan krn suka sama suka di masa lalu....itu akan berefek pd keadaan psikologis sang suami....sprti terlintas tanpa d undang bayangan istrinya sedang have sex dgn orang lain....
    apa lagi wanita sangat sulit melepas ikatan batin dgn lelaki yg pertama memperawaninnya....
    hal ini jangan di anggap enteng!
    Jadi muda-mudi hrs paham akan ini....
    wanita yg sudah tidak perawan baik udah tobat ato belum lebih baik bersama dgn pria yg sudah tdk perjaka baik udah tobat ato belum....mereka akan lebih bisa untuk saling menerima....krn keadaan masa lalu dan gaya hidup yg serupa....

    BalasHapus