Kamis, 03 Januari 2013

Hakekat "REALITAS"


Bismillah i'r Rahman i'r Rahim

1. Apabila telah diberi kenikmatan seperti "itu" pada dunia hingga kita tidak menghasratkan surga, yang adalah tempat sejati kenikmatan dan dari sana (surga) memperoleh kehidupannya, kenapa mesti/masih penghuni surga berfikir tentang bumi?

A. Ketika Tuhan memberikan segalahnya dalam dunia ini, semua itu merupakan bagian ujian Dari-Nya, apakah kenikmatan itu membuat kita mendekatkan diri Kepada-Nya atau kenikmatan dunia membuat kita lupa dan tidak menghasratkan kehidupan abadi. Kita mengetahui bahwa awal mula kehidupan adalah surga, dari sanalah hakikat manusia berasal, dan sudah semestinya kita mengupayakan kembali kesana bukan malah memikirkan kehidupan dunia lalu melupakan hakikat keberadaan.

2. Jangan pertimbangkan kenikmatan dan kesenangan yang muncul dari penyebab kedua. Hakikat "dipinjamkan" pada penyebab kedua. Adalah Dia yang menyebabkan keberuntungan dan kehilangan karna semua berasal dari Dia. Kenapa kita mendekap erat penyebab kedua?

B. Saat kita menerima pemberian dari orang lain, kita terhanyut dalam rasa syukur kepada orang tersebut, dan tak hentinya berterima kasih kepada orang tersebut, namun saat-saat seperti sering membuat kita lupa bahwa seseorang yang memberikan kita sesuatu itu hanyalah hal kedua yang dipinjamkan oleh hakikat hal pertama yaitu Tuhan. Semua berasal Dari-Nya dan akan kembali Kepada-Nya, sudah semestinya penyebab kedua tidak membuat kita melupakan asal muasal dari mana pemberian itu. Bila ingin mendekap erat penyebab kedua terlebih dahulu dekap pemberi nikmat dan jangan abaikan pemberi nikmat setelah kita mendekap penyebab kedua.

3. Ceraikanlah kecintaan pada uang dan harta benda dan cobalah bebaskan dirimu dari penjara dunia ini. Jika kau ingin merdeka darinya, maka kau harus mencari seorang pembimbing. Ingatlah, bahwa jika kau mencari bimbingan semacam itu dengan mata jasmanimu, itu tak ada bedanya dengan mencari-cari sesuatu dalam gelap.

C. Sebagian orang merasa bahagianya adalah materi, kedudukan, dan keindahan fisiknya. Jika seseorang telah terdoktiran oleh pemikiran seperti itu maka sesungguhnya ia telah terikat oleh dunia dan akan merasa takut meninggalkan dunia. Ketika ia tersadar, ia mencari pembimbing, namun terkadang pencariannya membuat semakin dalam kesalahan karena ia mencari dengan matanya yang telah tertipu oleh kemewahan. Padahal sejatinya seorang pembimbing bukan dicari melalui mata, tetapi ia hadir dalam jiwamu sekalipun engkau tidak dapat menatapnya.

Ya Allah Ya Robb.. Engkau adalah Raja dari segalah Raja yang ada. Bagi-Mu segalah kemungkinan menjadi nyata. Rahmat-Mu begitu luas mengalahkan Murka-Mu Ya Allah.. Engkau Maha Mengetahui apa yang tidak terketahui. Bagi-Mu segalah rahasia menjadi jelas.

Segalah sesuatu yang memiliki "keberadaan" dan "ketiadaan" tidak terlepas sebagai tanda adanya "REALITAS" kepemilikan.

Mustahil bagi manusia mengenal Tuhan jika tidak melalui Ciptaan-Nya, dan ciptaan yang paling dekat dan yang paling memungkinkan manusia mengenal Tuhan adalah dirinya sendiri.

"Barang siapa mengenal dirinya, maka dia mengenal Tuhannya"

Dalam hal presepsi sejatinya manusia pasti mengenal dirinya, tetapi Tuhan menginginkan manusia mengenal dirinya sendiri melalui akal (kemampuan berfikir dan keinginan berilmu). Manusia itu sendiri harus mengetahui untuk apa ia diciptakan. Kemudian manusia juga harus menyadari apa fungsi segalah sesuatu yang ada pada dirinya. Manusia harus menggunakan mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, dan semua yang ada pada dirinya sebagai cara mendekatkan/mengetahui adanya Tuhan, kemudian manusia itu sendiri harus menggunakan hakekat dirinya dalam jalan yang telah di ajarkan Baginda Rasulullah SAW dan para "Sahabat", serta para orang-orang beriman.

Semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua agar senantiasa mempergunakan "keberadaan" dan "ketiadaan" diri dalam jalan kepatuhan Kepada-Nya. InsyaAllah...

Amin Yaa Robb

Tidak ada komentar:

Posting Komentar